Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Don Hasman: Tokoh Etnofotografi Indonesia
banner foto

Don Hasman: Tokoh Etnofotografi Indonesia

Fotografi

0

9 Oktober 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
88
Don Hasman, pria kelahiran 7 Oktober 1940 ini adalah seorang tokoh fotografi legendaris Indonesia. Fotografer yang telah menginjak usia 80 tahun ini memiliki segudang karya dari bidikan lensa yang indah dan sangat menakjubkan. Fotografer yang akrab disapa Om Don ini sudah menggeluti dunia fotografi sejak 1951, atau saat berusia 11 tahun. Kamera pertamanya adalah Voigtlander, buatan Austria milik kakaknya.
“ Saya mulai tertarik dengan dunia fotografi pada tahun 1951 setelah melihat kakak saya yang sudah duluan pegang kamera. Dari situ, saya mulai ‘curi-pinjam’ kamera Kakak. Dan saya tekuni terus selama kurang lebih 3 tahun. Baru pada tahun 1953 dan 1954, saya makin mendalami dunia fotografi,” ujar Don Hasman.
Setelah saya punya kamera sendiri, Don Hasman mulai menjelajah daerah Jawa Barat. Awalnya, objek yang difoto halaman rumahnya sendiri. Mendekati 1971, Don Hasman berkunjung ke Indonesia bagian timur, tepatnya ke Timor Timur (sekarang Timor Leste). Don Hasman juga sempat mampir ke Kupang. Di sana, Don Hasman bertugas menjadi fotografer untuk KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang saat itu masih hitam-putih dan ukuran fotonya sangat kecil.
Dari timur Indonesia, Don Hasman lalu melakukan perjalanan ke Australia. Don Hasman mengaku pernah menetap di Darwin selama 2 tahun sambil mencari-cari pekerjaan di peternakan atau perkebunan. “Sambil saya foto-foto daerah sekitar sana. Saya berkeliling kota Darwin dan banyak sekali foto yang saya ambil,” kenang Don Hasman yang akrab disapa Om Don.
Kembali ke Indonesia, Don Hasman terus mengasah kemampuannya. Don Hasman mengaku belajar dari foto-foto kakaknya yang bekerja di Kantor Berita Aneta dari Belanda (sekarang Antara). Rupanya Don Hasman belajar dari foto-foto yang dibuang oleh kakaknya. “Dari fot-foto itu, saya belajar banyak sekali hal tentang fotografi,” ungkap Don.
Pada 1995, Don Hasman bergabung menjadi wartawan untuk Tabloid Mutiara. Saat itu Don Hasman banyak menggunakan film slide. Baru pada 2003, Don Hasman mulai memakai kamera digital pada 2003, merek Canon. “Setelah menggeluti dunia fotografi selama 12 atau 13 tahun, saya semakin cinta,” tambahnya.
Soal fotografi, Don mengaku punya pemahaman sendiri. Menurut Don, fotografi adalah bagaimana seorang fotografer mengambil gambar sesuai dengan apa yang mata lihat. Dan Don Hasman berpendapat bahwa gambar yang baik bukan karena perangkat yang digunakan oleh seorang fotografer, tapi yang terpenting adalah bagaimana gambar yang dihasilkan dari mata seseorang di balik kamera.
“Kalau soal mutu gambar, kita melihat apa yang ada di depan lensa. Setiap fotografer harus paham mau ambil gambar yang seperti apa. Fotografi adalah to take a picture as your eyes see it,” pungkas Don.
Don Hasman mengaku memiliki penilaian yang ketat dalam menilai sebuah gambar. Menjadi juri sebanyak lebih dari 200 kali untuk lomba fotografi, Don Hasman mengaku menyukai foto yang apa adanya dan tidak di-setting. Menurut Don, dia berhak menilai foto sesuai dengan seleranya dan itu tidak boleh dipermasalahkan.
“Fotografi itu, kan, selera mata dan tidak perlu diperdebatkan.  Kalau saya suka, tapi orang lain tidak suka, ya, tidak usah dipermasalahkan. Begitu juga sebaliknya. Kalau saya bilang foto ini jelek, tapi orang lain bilang bagus, ya, terserah masing-masing saja. Selera orang tidak bisa dipaksa,” ujar Om Don tegas.
Berpuluh tahun terjun di dunia fotografi, Don Hasman mengaku tidak hafal berapa jumlah koleksi foto yang ia miliki saat ini. Hanya saja jika memang harus diukur, Don Hasman mengaku koleksinya sudah memenuhi 4 filling cabinet di rumahnya. Itu belum termasuk foto dalam slide foto seberat 7-8 kilogram yang ia buang.
“Memang kalau saya datang ke suatu tempat, saya bisa memfoto antara 4.000 hingga 8.000 foto. Namun, kadang kita harus tahu batasannya. Untuk mencari yang terbaik, biasanya saya akan lihat dulu 10 foto, lalu saya pilih satu saja yang akan disimpan,” ujar Om Don sambil tertawa.
Tak hanya sebagai fotografer legendaris, Don Hasman juga dikenal dengan penjelajah yang tidak kenal lelah. Tidak main-main, Don Hasman pun menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki pegunungan Himalaya. Bahkan, ia telah melakukannya sebanyak 3 kali, yaitu pada 1976, 1978, dan 1996.
Selain itu, Don Hasman juga berhasil menaklukkan beberapa gunung lainnya, seperti Nuptse (7.861 mdpl), Kala Patthar (5.643 mdpl), hingga menaklukkan Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Afrika.
Selain mendaki gunung, masih ada banyak petualangan yang telah dilakukan Don Hasman. Mulai dari menelusuri gua, bersepeda, mengemudi mobil lintas negara, menyelam, kegiatan Search And Rescue (SAR), hingga melakukan penelitian berbagai kelompok, baik dalam negeri maupun luar negeri.
“Kalau soal target dan cita-cita, banyak sekali yang ingin saya capai. Tapi tentunya saya harus tahu diri dan tahu batasan. Kalau selama pandemi ini saya masih ‘lolos’ dan bisa bertahan hidup, saya ingin sekali datang dan menelusuri tempat yang sulit dijangkau. Kalau tidak mungkin, saya akan cari yang paling mudah dilakukan,” ungkap Om Don.
Bukan hanya itu saja, Don Hasman juga telah menjelajahi suku-suku pedalaman, pelosok desa, dan kabupaten yang ada di Indonesia. Bahkan, saking aktifnya bertualang ke negeri tetangga, Don Hasman telah mengganti paspornya sebanyak 11 kali!
“Siapa sangka, dari fotografi saya bisa berkeliling dunia 5 kali dan menjelajah enam benua. Saya sudah 37 kali ke Perancis dan sudah berkali-kali juga keliling Indonesia. Tidak terhitung kalau ditanya berapa kali keliling Indonesia,” kenang Om Don.
Menariknya, semua perjalanan yang dilakukannya pasti diabadikan dengan kameranya. Sehingga, tidak heran jika banyak yang menjulukinya sebagai “Bapak Etnofotografi Indonesia”.
Fotografer Indonesia, Don Hasman (80 tahun) saat melakukan Pameran Foto di Jepang beberapa tahun silam. Pada pameran foto Urang Kanekes tersebut, Don Hasman juga mengajak Ambu Rubana, penenun tradisional asal Desa Kanekes Banten untuk memeragakan pembuatan tenun khas Kanekes. (Foto: Kemenparekraf/Dokumentasi Pribadi Don Hasman)
Ciri Khas Foto
Julukan “Bapak Etnofotografi Indonesia'' yang diberikan kepada Don Hasman sebenarnya bukan tanpa alasan. Sebagai “Bapak Etnofotografi Indonesia”, setiap foto yang diambil fokus pada budaya dan aspek kehidupan manusia, seperti kebiasaan, seni, budaya, dan mode.
Dengan kata lain, etnofotografi digunakan untuk mendalami keragaman budaya manusia yang sesungguhnya tanpa rekayasa di masyarakat sekitar, seperti perilaku, pakaian, jenis rambut, warna suatu suku, dan sebagainya.
Dari ketertarikannya dalam bidang etnofotografi inilah yang seakan menjadi ciri khas dari setiap hasil foto bidikan Don Hasman. Sebagai fotografer, Don Hasman berhasil menunjukkan dan menginterpretasikan suatu kebudayaan melalui foto-foto yang dihasilkan.
Beberapa foto perjalanannya pun diabadikan ke dalam sebuah buku. Salah satunya adalah buku yang proses pembuatannya memakan waktu lebih dari 39 tahun, dan memerlukan 500 kunjungan ke Baduy, yakni Urang Kanekes (Baduy People) yang telah terbit pada 2013.
Deretan Prestasi dan Karya
Fokus menggeluti dunia fotografi lebih dari 40 tahun, tentu tidak mengherankan bila Don Hasman memiliki banyak prestasi dan karya yang sangat membanggakan. Karya-karya tersebut bisa kita lihat di buku-buku yang telah diterbitkannya.
Total adal lima buku yang dibuat Don Hasman, yaitu Orang Baduy dari Inti Jagad, Banknotes & Coins, Bunga Bangsa, Arung Samudera, Buku Geografi & Demografi Pemda, Trail of Civilization, dan tidak kalah menarik adalah buku Urang Kanekes, The Baduy People; The Indonesian Heritage Society.
Selain merilis banyak buku, Don Hasman berhasil menyabet berbagai penghargaan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa di antaranya: trofi Adinegoro di bidang foto jurnalistik (1988), 100 Famous Photographers in the World dari Perancis (2000), hingga meraih Anugerah Fotografi Indonesia kategori “Dokumentasi/Jurnalistik” dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2013).
Tidak hanya sampai di situ. Sosok yang dikenal sangat sederhana ini juga pernah mendapatkan penghargaan di luar bidang fotografi, yakni sebagai Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya dari Presiden Republik Indonesia (2009).
Berbekal jam terbang yang tinggi, Don Hasman juga beberapa kali terlibat dalam berbagai acara di bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, seperti misalnya mengisi seminar fotografi hingga menjadi juri atau kurator lomba foto di Indonesia.
Doto Cover: Ilustrasi Don Hasman


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia