Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Tren Pameran Digital Museum Selama Pandemi COVID-19
banner foto

Tren Pameran Digital Museum Selama Pandemi COVID-19

Seni Rupa

0

11 Oktober 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
138
Menyambut Hari Museum Nasional yang jatuh setiap tanggal 12 Oktober, tidak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk menjelajah museum yang ada di Indonesia dari rumah. Yap, dari rumah! Pasalnya, memang sekarang ini kunjungan ke beberapa museum masih dibatasi akibat pandemi COVID-19 yang masih melanda dunia, termasuk Indonesia.
Namun penutupan layanan kunjungan ini tidak lantas menutup akses wisatawan untuk menjelajahi museum. Justru pandemi dinilai mendorong percepatan inovasi dari museum-museum di Indonesia. Sejak pandemi COVID-19, muncul tren baru dalam menjelajah museum, yakni dengan memanfaatkan teknologi digital.
Seperti yang banyak dilakukan oleh pameran seni di dunia, museum juga mengambil langkah yang sama. Kini museum menyesuaikan diri untuk menciptakan terobosan terbaru: tur virtual museum. Adanya tur virtual ke museum diharapkan dapat mengobati rasa rindu akan destinasi wisata edukasi ini tanpa beranjak dari rumah.
Tidak hanya di Indonesia, tren tur virtual ini sebenarnya sudah dimulai dari museum-museum ternama di dunia. Mereka mengadakan berbagai layanan secara digital, mulai dari tur virtual, pameran daring, dan interaksi dengan publik via media sosial.
Beberapa museum terkenal di dunia pernah mengadakan virtual tour antara lain: The British Museum, The Pergamon Museum, The Metropolitan Museum of Art, Louvre Museum, dan The Van Gogh Museum. Di Indonesia, layanan museum digital ini pertama kali diperkenalkan melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sejak awal pandemi.
Untuk menyukseskan upaya ini Kemendikbudristek menggandeng Google Arts & Cultures untuk memasukkan sejumlah museum di Indonesia. Google Arts & Culture merupakan fitur virtual reality yang telah digunakan banyak museum di dunia untuk melakukan tur virtual. Dengan mengakses Google Arts & Culture, wisatawan dapat melihat koleksi museum dengan gambar dan video resolusi tinggi.
Google Art & Culture dilengkapi beberapa fitur andalan, di antaranya Artwork View, Virtual Gallery Tour, Explore and Discover, hingga Video and Audio Content. Layanan ini bisa dengan mudah kita dapatkan dengan mengunduh aplikasi, atau mengunjungi situs artsandculture.google.com.
Dengan kata lain, layanan ini juga dapat mengenalkan museum di Indonesia ke wisatawan mancanegara, yang tidak bisa mengunjungi Indonesia untuk sementara waktu.
Sampai saat ini ada lebih dari 20 museum di Indonesia yang telah mengadakan tur virtual. Berikut ini beberapa di antaranya:
Tampilan antara muka artsandculture.google.com sebagai sarana apresiasi Museum secara virtual. (artsandculture.google.com)
Museum Nasional Indonesia
Museum Nasional Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Museum ini menyimpan berbagai artefak dari seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari pahatan patung, topeng, hingga mahkota. Untuk mengunjungi Museum Gajah secara virtual bisa akses melalui situs: artsandculture.google.com/partner/museum-nasional-indonesia.
Galeri Batik YBI
Sama seperti namanya, Museum Batik YBI menyimpan berbagai koleksi batik dari seluruh Indonesia, seperti batik dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Pekalongan, Sumatera, Jambi, Yogyakarta, Bengkulu, hingga Cirebon. Untuk mengakses tur virtual di Galeri Batik YBI bisa langsung mengunjungi laman: artsandculture.google.com/partner/galeri-batik-ybi.
Museum Tekstil
Mengabadikan koleksi wastra nusantara, Museum Tekstil memiliki lebih dari 3.000 koleksi kain dari seluruh Indonesia. Tidak hanya batik, Museum Tekstil juga memiliki koleksi berupa kain tenun, hingga peralatan pembuatnya. Untuk melihat koleksi Museum Tekstil secara virtual bisa mengunjungi link berikut: artsandculture.google.com/partner/unit-pengelola-museum-seni.
Museum Sangiran
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, atau Museum Sangiran juga layak untuk dikunjungi secara virtual. Tak hanya fosil manusia purba, di museum Sangiran wisatawan juga bisa melihat lukisan wajah Raden Saleh. Tur virtual Museum Sangiran bisa diakses melalui: artsandculture.google.com/partner/sangiran-early-man-museum.
Museum Sumpah Pemuda
Menyambut Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, mari mengenang kembali gelora semangat para pemuda. Rentetan peristiwa ini diabadikan secara apik di Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jalan Kramat Jaya Jakarta Pusat. Museum Sumpah Pemuda memiliki koleksi berupa diorama, foto, catatan kongres, hingga biola milik W.R. Supratman. Akses digital Museum Sumpah Pemuda dapat disaksikan melalui: kebudayaan.kemdikbud.go.id/msp.
Balai Konservasi Borobudur
Kemegahan Candi Borobudur bisa wisatawan nikmati melalui tur virtual. Melalui tur ini wisatawan bisa melihat beberapa patung dengan ukuran yang berbeda-beda, hingga relief yang ada di sepanjang tembok candi. Selain itu kita juga bisa mengunjungi Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko melalui laman berikut:
Foto Cover: Ilustrasi pengunjung Museum virtual melalui artsandculture.google.com. (Shutterstock/Panitan Photo)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia