Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Viral: Salah Satu Strategi Periklanan Era Digital
banner foto

Viral: Salah Satu Strategi Periklanan Era Digital

-1

30 Agustus 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
100
Semakin berkembanganya teknologi ternyata memiliki pengaruh besar dalam dunia periklanan. Kondisi ini terlihat dari bergesernya tren periklanan masa kini yang mulai beralih ke arah digital, termasuk salah satunya pemasaran di media sosial.
Jika kita membahas iklan dan media sosial pasti tidak bisa dilepaskan dari sebuah istilah populer, yaitu “viral”. Mungkin istilah tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebenarnya kata viral sendiri dahulu merujuk pada sebuah penyakit yang sifatnya mudah menyebar.
Namun sekarang arti tersebut mengalami pembelokan makna. Kini kata viral merujuk pada cepatnya penyebaran suatu berita atau informasi di dunia maya. Tak hanya sebuah berita heboh yang dapat dikatakan viral, tapi iklan-iklan yang unik dan kreatif juga dapat viral sehingga menarik banyak perhatian.
“Tantangan pembuatan iklan di masa sekarang adalah bagaimana menyampaikan pesan utama dengan menciptakan kreativitas baru untuk mencapai konsumen. Strategi dalam pembuatan iklan tidak pernah berubah, kreativitas penyampaiannya yang berubah,” jelas Ricky Joseph Pesik, mantan Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) yang juga sebagai praktisi periklanan.
Beberapa contoh iklan viral adalah iklan toko retail Ramayana karya sutradara Dimas Djayadiningrat atau Dimas Djay pada 2018. Bisa dibilang sebenarnya tema iklan satu ini sangat sederhana, namun dikemas dengan sangat unik.
Tentu yang cukup menarik perhatian dan mungkin selalu diingat hingga sekarang adalah salah satu scene ibu-ibu kasidah saat bernyanyi, dan ada salah satu personilnya yang muncul dari dalam rice cooker. Saking viralnya, iklan berdurasi satu menit ini berhasil menjadi trending nomor 31 di YouTube. Bahkan hingga saat ini iklan karya Dimas Djay tersebut telah ditonton lebih dari 17 juta kali!
Baru-baru ini Dimas Djay juga menggarap sebuah iklan yang unik dan menarik perhatian banyak orang. Iklan tersebut menampilkan sekelompok bapak-bapak yang berjoget sangat luwes layaknya boyband dalam untuk memprosikan produk susu kental manis.
Tak hanya Dimas Djay, iklan “Keluarga Biskuit” garapan sutradara Dedy Vansophi juga menarik perhatian netizen. Iklan ini memuat salah satu kaleng biskuit legendaris di Indonesia, yang mencari sosok Ayah dalam kaleng biskuit tersebut yang tidak pernah muncul.
Tidak hanya sekadar mempertanyakan keberadaan sang Ayah saja, iklan ini menyelipkan pesan terkait prestasi pemerintah dengan cara yang simpel, unik, dan menarik. Bahkan, berkat keunikan dan viralnya iklan tersebut berhasil menyabet Piala Citra Pariwara kategori “Political Campaign” pada 2018.
Foto: Ilustrasi seorang audiens sedang menonton iklan Ramayana di laman youtube Dimas Djayadiningrat selaku sutradaranya. (Foto: Shutterstooc/Alex Photo Stock & Tangkapan Layar Youtube Dimas Djayadiningrat)
Strategi Beriklan dengan Viral Marketing
Melihat pencapaian yang didapat iklan-iklan di atas tentu tidak dapat dipungkiri bahwa “viral” menjadi salah satu strategi periklanan masa kini. Hanya saja, menciptakan konten viral juga harus dibarengi dengan strategi, kreativitas, dan berbagai persiapan yang matang agar menghasilkan karya yang berkualitas.
Oleh karena itu, salah satu kunci strategi periklanan yang bisa dicoba adalah viral marketing. Singkatnya, viral marketing adalah sebuah strategi dalam menyebarkan informasi suatu produk dengan cara daring ataupun luring.
Sebenarnya viral marketing bukanlah hal baru, karena dulu sudah mulai dilakukan dengan cara menyebarkan melalui mulut ke mulut. Hanya saja, saat ini viral marketing dibantu media sosial yang akan menjadi perantara dalam memviralkan sebuah konten atau iklan.
Strategi viral marketing memudahkan produsen memasarkan produk agar lebih cepat populer. Karena iklan tersebut “dibantu” oleh masyarakat yang menyebarkan secara sukarela, sehingga iklan viral di media sosial dengan jangkauan yang sangat luas.
Menariknya lagi, strategi viral marketing juga membuat bisnis atau produk yang dipasarkan menjadi lebih dikenal. Wajar, karena iklan yang viral membuat sebuah produk menjadi bahan pembicaraan banyak orang sehingga mencapai brand awareness yang tinggi.
Namun yang wajib diperhatikan, “Sekalipun sebuah iklan itu viral, harus dilihat hasil evaluasinya apakah keviralan ataupun kelucuan pada iklan tersebut itu efektif untuk menjawab tujuan utama dari iklan untuk menjangkau konsumen? Paling tidak jangan gagal untuk memanfaatkan kepopuleran dari viral tersebut sebagai strategi pemasaran,” pesan Ricky Joseph Pesik.
Bagaimana agar Konten Iklan Menjadi Viral?
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, media sosial memiliki peran penting dalam memviralkan sebuah konten atau iklan. Terlebih jumlah pengguna media sosial di Indonesia juga terus meningkat setiap tahunnya.
Mengutip laporan “Digital 2021: The Latest Insights Into The State of Digital”, dari 274,9 juta penduduk Indonesia sekitar 61,8% atau 170 juta di antaranya sudah menggunakan media sosial. Sementara itu dari banyak media sosial yang ada, YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter menjadi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Apalagi sejak pandemi COVID-19 membuat orang semakin lebih sering menggunakan media sosial. Tentunya viral marketing menjadi salah satu strategi pemasaran yang tepat. Selain menggunakan media sosial kita juga perlu melakukan beberapa strategi agar konten yang diciptakan menjadi viral, sehingga pesan yang disampaikan tetap dapat diterima.
Hal paling utama yang harus dilakukan adalah melakukan riset untuk menentukan topik yang spesifik dan menggugah emosi audiens. Hal ini merujuk pada sebuah studi yang menjelaskan bahwa iklan yang dapat membangkitkan emosi bisa meningkatkan penjualan 31%, sedangkan iklan yang berdasar fakta hanya meningkatkan penjualan 16%.
Analisis data juga tak kalah penting, termasuk salah satunya melihat data penonton di setiap media sosial. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu konten iklan seperti apa yang disukai, efektivitas pesan, serta menganalisis demografi audiens.
Foto Cover: Ilustrasi audiens yang sedang menyaksikan iklan karya Dedy Vanshopi. (Shutterstock/aslysun & Tangkapan Layar Youtube Dedy Vanshopi)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia