Beranda >> rumah difabel >> Belajar Inklusivitas dari Grup Musik Manikmaya
banner foto

Belajar Inklusivitas dari Grup Musik Manikmaya

Rumah Difabel

0

29 Oktober 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
3
“Musik adalah media yang menyatukan banyak perbedaan”. Agaknya ungkapan tersebut tidak keliru, mengingat banyaknya persatuan yang lahir dari musik. Salah satu bukti nyata musik menyatukan perbedaan dapat dilihat dari grup musik Manikmaya.
Grup musik beraliran pop yang easy listening, dengan irama nyaman di telinga, seakan tidak membuat grup musik Manikmaya terlihat “berbeda” dari grup musik lainnya. Padahal, grup musik Manikmaya bisa dibilang mencerminkan inklusivitas di dalamnya. Sebab beberapa personel dari Manikmaya merupakan penyandang disabilitas.
Manikmaya merupakan sebuah grup musik yang lahir dari komunitas bernama Napak Inclusive Society. Komunitas ini bertujuan sebagai upaya kolektif membuat masyarakat yang inklusif. Sejalan dengan hal tersebut, pada Januari 2019 Manikmaya dibentuk, sebagai bentuk dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif.
Nama “Manikmaya” sendiri dipilih karena memiliki makna filosofis yang mendalam bagi setiap personilnya. Sebab, dalam tokoh pewayangan, Manikmaya adalah salah satu tokoh disabilitas. Dengan harapan, Manikmaya dapat bermusik tanpa adanya batasan.
“Manikmaya awalnya terbentuk ketika saya ikut salah satu acaranya di Rumah Inklusi bernama Balada Inklusi. Saat itu, saya bertemu dengan gitaris netra dan mantan pengamen jalanan. Dari situ, kami yang memang sama-sama suka musik, ingin membuat band. Dan saat itu, respons yang kami dapatkan sangat baik. Lalu kami cari pemain drum. Sayangnya 2 personel awal tadi keluar, lalu digantikan dengan personel baru lagi. Jadi sekarang formasi Manikmaya seperti sekarang ini,” kata Raindah, vokalis Manikmaya.
Yang unik, Manikmaya tidak ada keseragaman latar belakang. Beragam latar belakang anggotanya seakan menjadi contoh inklusif di Indonesia. Perbedaan di antara mereka pun seakan tidak terasa, hal inilah yang diharapkan dapat diaplikasikan dalam masyarakat secara luas.
Grup musik Manikmaya beranggotakan lima orang personel, yaitu Raindah sebagai vokalis seorang mahasiswa, Raffi seorang difabel daksa yang mengisi gitar melodi, Ovin difabel netra sebagai gitar rhythm, Rizki anak jalanan sebagai bassist, dan di posisi drum ada terapis online bernama Gea.
Awalnya grup Manikmaya hanya memiliki anggota Raindah, Rizki, dan Ovin. Namun dalam perjalanannya dalam bermusik, Gea dan Raffi ikut bergabung untuk semakin melengkapi dan memeriahkan komposisi dalam grup musik ini.
Masing-masing personel Manikmaya memiliki keinginan yang sama, yakni membangun kesadaran masyarakat dan melakukan kampanye tentang arti persahabatan tanpa batas. Selain bermusik, Manikmaya juga memiliki misi untuk melakukan awareness campaign terkait isu-isu sosial ke masyarakat Indonesia.
Tidak hanya isu soal disabilitas, inklusivitas yang diusung Manikmaya juga meliputi keragaman budaya, bahasa, gender, ras, suku bangsa, dan strata ekonomi. “Karena kami juga bagian dari Rumah Musik Harry Roesli, kami juga menjadi pengajar les di sana. Selain itu, kalau di Rumah Inklusi, kami suka berbagi pengalaman bersama teman-teman difabel di sana. Kami rangkul teman-teman difabel untuk berkembang sesuai dengan passion mereka,” ucap Raindah.
Tangkapan layar dari klip musik Manikmaya Inclusive di Youtube.
Eksistensi Grup Musik Manikmaya
Karya yang dihasilkan Manikmaya tidak terpaku pada genre tertentu, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Meski terbilang baru, namun Manikmaya sudah membuktikan eksistensinya di industri musik Indonesia.
Hal ini dibuktikan dari kesuksesan mereka dalam merilis single perdana pada 2019 dengan tajuk, Tinggalkanlah Dirinya. Kesuksesan lagu ini dapat dilihat dari banyaknya penonton official lyric video di laman YouTube Manikmaya yang mencapai 7,6 ribu penonton.
Setelah sukses dengan lagu perdana mereka, pada 2021 Manikmaya kembali merilis single terbaru dengan judul, Kau dan Aku. Selain YouTube, lagu-lagu dari Manikmaya juga dapat dinikmati di berbagai platform online dan aplikasi streaming musik, seperti Spotify dan i-Tunes.
Eksistensi Manikmaya juga bisa dilihat dari banyak jadwal manggung yang mereka dapatkan, mulai dari pensi di sekolah-sekolah, kampus, hingga acara pernikahan kerap diisi grup musik ini. Hebatnya lagi, salah satu bukti musikalitas yang tinggi, Manikmaya sempat tampil dalam Festival Tanah Air #6 pada Oktober 2019.
“Kami sangat senang ketika orang-orang menikmati musik kami karena memang musik kami bagus, bukan karena Manikmaya ada personel difabel. Seperti saat kami tampil di SMA 9, penonton benar-benar menikmati musik kami dan berinteraksi selayaknya sedang menonton band pada umumnya. Jadi, sebenarnya kami tidak ingin diistimewakan. Setiap kali Manikmaya tampil, kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dibedakan. Manikmaya sama seperti band-band lainnya yang juga bisa menampilkan musik yang enak dan dapat dinikmati banyak orang,” sambung Raindah.
Jadi, keterbatasan dan perbedaan satu sama lain bukanlah halangan untuk berkarya bersama. Adanya Manikmaya bisa dijadikan bukti perbedaan dapat menjadi sebuah peluang yang baik dalam industri kreatif di Indonesia.
Manikmaya pun berharap agar mereka mampu bersaing di industri musik Indonesia, dan dipandang secara objektif melalui karya-karya mereka, bukan dari “siapa mereka”.
Foto Cover: Dokumentasi dari Manikmaya Inclusive


Berita Terkait
rekomendasi berita

Komunitas Difabel Slawi Mandiri Berikan Pelatihan Ekraf pada Teman Difabel

rekomendasi berita

Belajar Inklusivitas dari Grup Musik Manikmaya

rekomendasi berita

INFOGRAFIK: 5 Destinasi Rekomendasi Wellness Tourism