Beranda >> rumah difabel >> Difalitera: Komunitas Sastra Teman Difabel Netra
banner foto

Difalitera: Komunitas Sastra Teman Difabel Netra

Rumah DIfabel

1

28 September 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
92
“Sastra itu harus adil”. Begitu menurut Indah Darmastuti, pendiri Difalitera. Berangkat dari keyakinannya ini ia mendirikan sebuah komunitas yang sangat bermanfaat bagi teman difabel netra, Difalitera.
Nama Difalitera akan muncul di benak penikmat sastra ketika membicarakan karya sastra yang inklusif. Difalitera sendiri merupakan komunitas yang memproduksi berbagai karya sastra, seperti puisi, geguritan, cerita pendek, dan cerita anak yang dikemas dalam bentuk audio yang bisa dinikmati teman difabel netra.
Dari situlah, Indah Darmastuti, pendiri Difalitera, mulai mengubah bentuk karya sastra tulis ke bentuk lisan sejak 2018 silam. Keinginannya itu juga didorong dari pengalaman salah satu pegiat sastra difabel, Agatha Febriany, yang merasa kesulitan untuk mendapatkan sastra, sementara buku sastra dalam Braille sangat sedikit.
Mulainya Indah bertemu dengan komunitas  sastra dan berencana untuk mengalihwahanakan sastra tulis menjadi suara. Dalam gerakan ini, Indah berkolaborasi dengan pegiat komunitas sastra Pawon, mahasiswa Etnomusikologi untuk membuat ilustrasi musik dan pegiat isu difabel lainnya.
“Setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, pengetahuan, dan informasi dari sastra. Saya awalnya membayangkan ada media sastra yang berperspektif gender, kritis dan inklusif yang dapat diakses oleh siapa saja,” kata Indah.
Meskipun sebenarnya bisa menggunakan alternatif mengakses ebook, yang notabene bisa digunakan untuk mengalihkan tulisan dalam bentuk suara. Namun karena berbasis mesin, ebook tidak dapat membaca cerita dengan intonasi dan emosi khas manusia. Terlebih beberapa sastra terbaru juga belum banyak disediakan dalam bentuk ebook.
Indah mengakui bahwa proses mengalihwahanakan ini cukup panjang. Dimulai dari pengumpulan naskah, kurasi naskah, penyuntingan, narasi lalu diakhiri dengan ilustrasi musik. Tak hanya itu, audionya juga harus memperhatikan tempo, teknik vokal dan keselarasan dengan cerita untuk membangun suasana lebih baik lagi.
“Salah satu kesulitan dalam proses ini adalah bagaimana saya harus mengumpulkan individu atau kelompok yang juga peduli dengan sastra, difabel dan gerakan sosial. Saya juga melibatkan teman difabel sebagai narator,” ujar Indah.
Waktu pertama membangun website Difalitera.org, Indah juga melibatkan difabel netra untuk mencoba situs tersebut selama satu minggu. Dalam masa percobaan tersebut, Indah mendapatkan masukan terkait aksesibilitas situs Difalitera. Karena langsung melibatkan difabel netra, penyempurnaan situs Difalitera disesuaikan dengan “standar” yang nyaman bagi difabel netra.
“Jadi, kami memastikan bagaimana agar situs ini aksesibel bagi teman netra. Kalau tidak salah kami memperbaiki situs sampai 4 kali sampai akhirnya kami mendapat penilaian yang baik dari mereka: ringan, mudah dan sederhana,” pungkas Indah.
Untuk pengumpulan karya sastranya, Indah menghubungi teman-teman penulis dan meminta izin karya mereka bisa dialihwahanakan dari teks ke audio. Sejauh ini sudah ada 300 karya sastra yang diaudiokan, mulai dari cerpen, puisi, cerita anak, cerita berbahasa Jawa, dan cerita rakyat.
“Kami tahu apa yang kami lakukan ini adalah hal yang sangat kecil, tetapi setidaknya kami bisa mengajak teman-teman untu berbagi kesenangan dan menjalin pertemanan, terutama teman difabel netra yang harus kita penuhi haknya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan juga berbagi cerita,” kata Indah bersemangat.
Ilustrasi karya sastra yang sudah diubah atau alih wahana ke dalam bentuk audiobooks. (Foto: Shutterstock/Jantanee Runpranomkorn)
Mengubah Sastra Tulis Menjadi Bentuk Lisan
Terbentuk sejak 2018, kini Difalitera punya 7 narator dan beberapa anggota pendukung lainnya. Mereka semua membacakan karya-karya dari penulis yang mengizinkan karyanya diubah dalam bentuk audiobooks. Menariknya, Difalitera juga melibatkan kalangan difabel dalam pembacaan naskah sastra. Dalam prosesnya calon narator Difalitera akan dilatih oleh teman-teman Etnomusikologi dan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Uniknya, dalam proses pengerjaannya tim Difalitera tidak perlu bertemu langsung, pengerjaan audiobooks dilakukan di rumah masing-masing. Nantinya tim akan mengirimkan naskah pada anggota yang bertugas sebagai narator. Setelah diambil rekaman suaranya, narator akan mengembalikan karya sastra dalam bentuk audio.
Kemudian hasil bacaan tersebut akan diberikan musik latar untuk mendukung jalannya cerita tersebut. Jika rekaman telah dilengkapi dengan musik dan dirasa pas, maka audiobooks akan diunggah di situs difalitera.org.
Selain itu, Difalitera juga memiliki misi untuk mengenalkan ragam bahasa nusantara kepada teman difabel melalui cerpen atau cerita rakyat. Untuk itu, dibuatlah program Sastra Suara Bahasa Nusantara yang juga akan menjadi cara untuk teman-teman di daerah untuk mengenalkan bahasanya. Dengan adanya Sastra Suara Bahasa Nusantara ini, pendokumentasian sastra bukan hanya lebih otentik, tapi juga inklusif.
“Saya mulai dari mencari kontributor dari berbagai daerah dengan memanfaatkan jaringan. Faktanya, banyak penutur bahasa ibu, tapi bukan penulis. Sedangkan banyak penulis tidak paham bahasa suku. Hal yang cukup menjadi tantangan dalam mengerjakan proyek ini,” jelas Indah.
Jalan keluar yang ditemukan oleh Indah adalah dengan melakukan kolaborasi, yaitu Difalitera akan menuliskan dulu ceritanya dalam Bahasa Indonesia, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa ibu atau suku. Selama tahap awal, Difalitera bersama Daeng Maliq berhasil mengumpulkan 38 cerita dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Bali, NTT, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.
“Selama proses pengumpulan ini, saya menyadari bahwa ketika bicara soal ‘nusantara’, masalah lainnya muncul. Karena bahasa nusantara ada banyak sekali. Dari Papua saja ada 267 bahasa. Sedangkan kami baru menemukan 3 bahasa suku Papua. Itupun masih dalam proses mencari penerjemah. Namun, apa yang kami kerjakan ini akan diselesaikan pelan-pelan,” tutur Indah.
Indah menjelaskan bahwa Difalitera harus adil kepada teman difabel seluruh daerah di Indonesia. Tidak hanya untuk satu bahasa ibu saja, tapi semua bahasa yang ada di Indonesia. Difalitera harus memberikan kesempatan kepada teman difabel lain untuk mengenalkan bahasanya kepada dunia.
Kegiatan Difalitera dan Karya-karyanya
Beberapa kategori karya sastra yang terdapat dalam laman Difalitera antara lain: cerita anak, cerita cekak (cerita pendek berbahasa Jawa), puisi dan geguritan, english lesson, serta short story. Selain website, karya sastra audiobooks karya Difalitera juga bisa dinikmati di platform Spotify.
Tidak hanya cemerlang pada dunia maya, Difalitera juga memiliki agenda rutin membaca buku karya sastra di hadapan teman-teman difabel netra. Umumnya aktivitas membaca sastra rutinan ini dilakukan setiap akhir pekan di Kota Surakarta.
Sayangnya, sejak adanya pandemi COVID-19 acara membaca sastra rutinan tersebut dijeda untuk menghindari kerumunan. Namun teman-teman difabel netra tetap bisa menikmati karya Difalitera melalui dunia maya.
Meskipun awalnya dibuat untuk penyandang difabel netra, namun realisasinya karya-karya dari Difalitera juga dinikmati oleh masyarakat non difabel. Terbukti selama pandemi COVID-19 laman difalitera.org menunjukkan peningkatan pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Di sisi lain, pengunjung ke laman Difalitera mengalami peningkatan selama  pandemi. Indah menilai, saat dunia semakin riuh, waktu semakin mahal, sastra tetap bisa tenang, bersahabat dan tetap memberi sesuatu yang lembut dengan cara berbeda. Indah membayangkan waktu membaca buku di masa depan akan semakin sempit dan kertas semakin langka. Masyarakat akan lebih mudah mendapatkan karya sastra melalui sastra suara.
“Ke depannya, saya berharap dengan semakin banyak orang yang tahu tentang Difalitera, akan semakin banyak juga pihak yang ikut gerakan ini, baik untuk golongan non difabel maupun teman netra. Saya juga berharap agar apa yang dilakukan Difalitera sejauh ini dapat mendorong teman difabel netra agar bisa ikut ambil bagian dan menjadi pelaku dalam literasi Indonesia,” ujar Indah.
Melalui inovasi-inovasi seperti yang dilakukan Difalitera harapannya dunia sastra di Indonesia semakin berkembang dan semakin inklusif. Karya sastra pun menjadi lebih mudah dinikmati sambil beraktivitas, dan untuk semua kalangan.
Foto Cover: Ilustrasi kegiatan membaca karya sastra teman difabel. (Shutterstock/Hananeko_Studio)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Rumah Inklusi: Rumah Kreativitas Teman Difabel di Indonesia

rekomendasi berita

Difalitera: Komunitas Sastra Teman Difabel Netra

rekomendasi berita

INFOGRAFIK: Industry Megashift Pariwisata dan Ekonomi Kreatif