Beranda >> rumah difabel >> Rumah Inklusi: Rumah Kreativitas Teman Difabel di Indonesia
banner foto

Rumah Inklusi: Rumah Kreativitas Teman Difabel di Indonesia

Rumah Difabel

0

10 Oktober 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
74
Memaksimalkan potensi yang justru datang dari kekurangan teman difabel merupakan salah satu upaya yang ingin dilakukan oleh Rumah Inklusi. Teman difabel juga diajarkan untuk bisa membantu masyarakat dalam lingkup sosial. Berbagai pembekalan di literasi, musik dan bidang kreatif lainnya pun diberikan untuk teman difabel agar mereka bisa memiliki skill dan mengisi ruang pada industri tersebut tanpa takut dipandang sebelah mata.
Banyaknya anggapan bahwa difabel tidak bisa mandiri merupakan pandangan yang ingin diubah oleh Rumah Inklusi. Untuk itu, Rumah Inklusi ingin melibatkan semua pihak melalui berbagai kegiatan agar difabel justru dipertimbangkan posisinya dalam masyarakat, bukan malah disisihkan.  Biar bagaimanapun, teman difabel justru harus diberikan kesempatan untuk berkembang agar bisa memiliki kemampuan untuk berkarya.
“Jadi sebenarnya Rumah Inklusi ini adalah satu bagian dengan Rumah Musik Harry Roesli (RMHR). Bedanya kalau RMHR fokusnya adalah anak jalanan, kalau Rumah Inklusi ini untuk teman-teman difabel. Tapi memang dari kata ‘inklusi’,  kami ingin mencangkup semua orang yang ada dalam gerakan ini. Tidak hanya musisi, jalanan, tidak hanya teman difabel, tapi semua orang termasuk masyarakat non-difabel untuk menjadi bagian dari gerakan ini,” kata Jiwa Palamarta, salah satu pendiri Rumah Inklusi.
Ada berbagai kegiatan yang dilakukan di Rumah Inklusi yang bertujuan agar teman-teman difabel bisa mandiri. Jiwa menjelaskan, apapun kegiatan yang dijalankan, Rumah Inklusi fokus agar teman-teman difabel ini bisa memberikan efek timbal balik untuk masyarakat. Misalnya saja salah satu kegiatannya adalah memberikan pendampingan pasien tidak mampu atau tidak terurus di rumah sakit.
“Kami ingin agar teman-teman difabel ini bisa juga membantu orang lain. Kegiatan di rumah sakit itu seperti membantu mengurus administrasi dan semacamnya. Kami ingin memberikan kesan kepada masyarakat bahwa difabel juga bisa membantu, ‘ngurus’ orang lain, tentu disesuaikan dengan kemampuan teman difabelnya. Bagaimana kegiatan ini bisa mengubah pandangan masyarakat bahwa difabel itu setara dengan orang lain,” papar Jiwa Palamarta selaku inisiator Rumah Inklusi.
Ilustrasi teman difabel yang tampak antusias berkarya menggunakan media cat air. (Foto: Shutterstock/Prapon Srinakara)
Selain kegiatan sosial ini, Rumah Inklusi juga mengadakan pelatihan musik yang guru-gurunya datang dari berbagai kalangan, termasuk difabel. Rumah Inklusi ingin agar teman difabel bisa menemukan kekuatannya dibalik kelemahan mereka. Misalnya mengajarkan teman netra bisa membaca dengan bantuan perangkat.  Teman netra dari Rumah Inklusi juga sudah bisa menggelar pameran seni lukis dan Darwis Triadi sebagai kuratornya. Bahkan seniman Tisna Sanjaya menilai lukisan teman netra sebagai karya murni.
“Dari situ, saya dan relawan lainnya ingin terus mengoptimalkan kemampuan ini ke media seni yang lain, seperti membuat patung atau melukis dengan sendok dan melukis dengan berbagai jenis kuas atau alat,”  menurut Jiwa.
Rumah Inklusi juga mengadakan program pelatihan musik untuk teman Tuli. Program yang dinamakan Deaf Music Course ini dibagi menjadi beberapa pertemuan. Pertemuan pertama untuk mengajarkan teman Tuli membaca not balok. Teman Tuli juga diajarkan perkusi sebagai alat musik tidak bernada. Selanjutnya akan diajarkan untuk mempelajari tempo lewat getaran atau tanda dari lampu. Kalau memungkinkan, selanjutnya teman Tuli akan diajarkan alat musik bernada.
“Karena baru berjalan dua pertemuan, jadi kami belum terbayang efeknya akan seperti apa nantinya. Tapi kami memang sengaja ingin ‘nabrak’ dan mendobrak batasan. Seperti teman netra kami arahkan pada kemampuan visual dan teman Tuli ke audio,” tambahnya.
Salah satu yang bisa dibilang berhasil menggeluti dunia musik dari Rumah Inklusi adalah grup Manikmaya yang terbentuk pada 2019. Grup ini tidak hanya melibatkan teman difabel dari Rumah Inklusi, tapi juga non-difabel. Manikmaya beranggotakan 5 orang  yang masing-masing memiliki latar belakang berbeda dengan musikalitas yang tinggi. Manikmaya sudah sering sekali diundang di berbagai acara dan sudah diakui musikalitasnya.
“Kami ingin Manikmaya menjadi band percontohan atau sebagai alat peraga bahwa teman difabel bisa berkarya dan ini adalah band yang inklusif karena melibatkan semua pihak,” kata Jiwa.
Salah satu kegiatan yang juga menarik adalah Bioskop Berbisik untuk teman Netra. Teman Netra akan didampingi oleh relawan atau siapapun yang ingin terlibat untuk menceritakan situasi yang terjadi ke dalam film. Sebelum pandemi, kegiatan ini rutin dilakukan.
Terkait film, Jiwa juga ingin teman difabel bisa berproduski di bidang sinematografis. Rumah Inklusi berencana membuat sitkom. Semua aspek produksi akan dikerjakan oleh teman difabel, mulai dari penulisan naskah hingga sebagai aktornya. “Semua akan dilibatkan, dari perencanaan hingga perilisan nantinya. Kami juga akan mengadakan workshop untuk memberikan pembekalan kepada teman difabel. Ini juga akan menjadi bekal teman difabel jika ingin masuk ke industri perfilma umum,” lanjutnya.
Kegiatan yang dilakukan oleh Rumah Inklusi ini sebenarnya adalah agar bisa menjadi contoh bagi masyarakat bagaimana memperlakukan difabel. Masyarakat jangan memandang difabel sebagai “orang yang tidak berdaya”, tapi bagaimana justru mendukung mereka agar bisa mandiri. “Misalnya dengan menyediakan fasilitas agar mereka tidak perlu bergantung pada orang lain. Kami juga sedang berusaha mensosialisasikan penggunaan bahasa isyarat untuk memudahkan berkomunikasi dengan teman tuli. Dan ini tidak hanya berlaku untuk Rumah Inklusi saja, tapi juga di lingkungan yang lainnya,” kata Jiwa.
Rumah Inklusi juga memiliki penilaian untuk masing-masing anggota melalui indikator. Penilaiannya akan berbeda setiap anggota berdasarkan kategori difabel dan tingkatnya. Kedepanya Rumah Inklusi juga akan merumuskan standarisasi berdasarkan tingkatannya. Untuk sementara, relawan masih menerka-nerka indikator yang dipakai.
“Kami ingin agar bagaimana teman-teman difabel bisa menyadari potensi yang mereka miliki. Kemampuan teman difabel itu jauh lebih besar dari apa yang mereka sadari. Jadi, teman difabel harus bisa membuktikan hal itu dan bisa kembali ke masyarakat dengan tanpa merasa kekurangan apapun,” ujar Jiwa menutup percakapan dengan Kemenparekraf.
Foto Coever: Ilustrasi teman difabel tengah berkarya bersama. (Shutterstock/B Click Studio)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Rumah Inklusi: Rumah Kreativitas Teman Difabel di Indonesia

rekomendasi berita

Difalitera: Komunitas Sastra Teman Difabel Netra

rekomendasi berita

INFOGRAFIK: Industry Megashift Pariwisata dan Ekonomi Kreatif