Ingin tahu soal 5 Destinasi Super Prioritas,klik di sini ya!
Mengenal Lebih Jauh Tentang Gastronomi Kuliner Indonesia

Mengenal Lebih Jauh Tentang Gastronomi Kuliner Indonesia

0

Tak sekadar lezat disantap, makanan-makanan khas Indonesia juga menyimpan sejarah dan filosofi mendalam. Mulai dari cara pembuatan, cara penyajiannya, termasuk dalam pemaknaan makanan. Hal ini dikenal dengan istilah gastronomi.

Mungkin Sobat Parekraf masih sedikit asing dengan istilah gastronomi. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gastronomi mempunyai makna: seni menyiapkan hidangan yang lezat. Namun, gastronomi juga kerap dipahami sebagai ilmu yang berhubungan dengan seni, filosofi, sosial-budaya, hingga antropologi suatu makanan. 

Bahkan, gastronomi dapat diartikan sebagai kebiasaan makan dari suatu wilayah yang berhubungan dengan budaya masyarakat setempatnya. Contoh, masyarakat yang tinggal di pesisir pantai kebanyakan mengonsumsi hidangan laut, dibanding masyarakat di dataran tinggi.

Itu sebabnya, gastronomi bukanlah sekadar kuliner biasa. Gastronomi lebih menekankan pada aktivitas menikmati kuliner, serta mempelajari sejarah dan budaya dari setiap sajian. 

BACA JUGA: Unik, Kolaborasi Fesyen x Kuliner Lokal yang Anti-Mainstream

Potensi Wisata Gastronomi di Indonesia

Penerapan gastronomi pada kuliner Indonesia terbilang sangatlah tepat. Pasalnya, Indonesia memiliki berbagai kuliner tradisional yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Bahkan, hampir semua kuliner khas Indonesia memiliki cerita yang menarik untuk dikulik dan pelajari.

Perlu diingat kembali, wisata gastronomi berbeda dengan wisata kuliner. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), wisata gastronomi merupakan perjalanan ke satu daerah yang berhubungan dengan makanan sebagai tujuan rekreasi. Sehingga, wisata gastronomi lebih menekankan pada filosofi di balik sebuah makanan atau minuman.

Sebagai contoh, jika Sobat Parekraf berlibur ke Salatiga, yang juga merupakan Kota Gastronomi Indonesia, lantas menikmati satu kuliner legendaris Salatiga, tumpang koyor. Menurut sejarahnya, dalam naskah Serat Centhini, tumpang koyor telah ada sejak 1814. Tumpang koyor merupakan sup tradisional yang terdiri dari tahu, tempe, atau hidangan berbasis kedelai, serta bumbu khas lainnya.

Jadi, hal yang menarik dari wisata gastronomi adalah pengalaman dan pengetahuan kita tentang makanan, bukan sekadar menikmati kelezatan dari makanan yang kita santap.

BACA JUGA: Kuliner Khas Nusantara Hasil Akulturasi Budaya


Ilustrasi seni tata boga dan penyadian makanan. (Foto: Shutterstock/Roman Chazov)


Pendidikan Gastronomi di Indonesia

Pengembangan gastronomi di Indonesia terus diupayakan. Seperti yang kita ketahui, gastronomi tidak bisa dilepaskan dari penataan makanan yang menarik, lengkap dengan cerita di balik pembuatannya. Hal inilah yang dipelajari dalam salah satu program studi di Politeknik Pariwisata (Poltekpar), yakni Seni Kuliner.

Pada prodi seni kuliner, para mahasiswa belajar banyak hal, satu di antaranya adalah cara mengolah dan menata makanan dengan baik. Sehingga setiap makanan yang dihidangkan memiliki nilai filosofis yang tinggi. 

Selama kuliah mahasiswa mempelajari pemahaman lintas budaya, pengetahuan menu, pengetahuan tata hidang, hingga seni dekorasi makanan. Jadi, ketika lulus, diharapkan lahir talenta-talenta baru di bidang gastronomi yang tidak hanya mempelajari pengolahan dan penyajian makanan, melainkan budaya yang melahirkan kuliner itu sendiri. 

Bahkan, tidak menutup kemungkinan, lulusan Poltekpar dapat meng-upgrade atau memodifikasi kuliner-kuliner asli Indonesia dengan tampilan yang lebih menarik. Sehingga kuliner khas Indonesia makin mudah dikenal di dunia.

Bagi Sobat Parekraf yang tertarik mempelajari ilmu tentang kuliner dan gastronomi, bisa bergabung ke prodi seni kuliner yang ada di Poltekpar Medan, Poltekpar Palembang, Poltekpar NHI Bandung, Poltekpar Makassar, Poltekpar Lombok, dan Poltekpar Bali.

BACA JUGA: PMB Poltekpar Telah Dibuka, Ini Program Studi Unggulannya


Foto Cover: Ilustrasi kuliner khas Indonesia (Shutterstock/ZahyMaulana)

Kemenparekraf / Baparekraf
KemenparekrafSelasa, 11 Juli 2023
23168
© 2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif