Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Dangdut is The Music of My Country
banner foto

Dangdut is The Music of My Country

Musik

0

16 Juli 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
85
Sesuai penelitian dari Institut Teknologi Padang, musik dangdut populer mulai muncul sejak adanya pengaruh musik India, tepatnya sejak ada film “Boneka India” pada akhir 1950-an. Seiring berjalannya waktu dangdut terus mengalami perkembangan. Hingga akhirnya lahir dangdut modern pada akhir 1960-an atau menjelang era ’70-an yang jauh lebih matang dalam format kontemporer.
Tak heran, memasuki medio ’80-an musik dangdut menjadi aliran musik yang sangat diminati dan populer di Indonesia. Selain instrumen nada yang enak didengar, lirik-lirik dangdut dinilai dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari yang romantis, membahas isu-isu sosial, hingga lirik yang bersifat syiar agama Islam.
Karakter dangdut yang dinamis, membuatnya bisa dipadukan dengan genre musik lainnya. Karena itu, saat ini kita dapat mendengar jenis dangdut yang lebih kekinian yang digabungkan dengan musik elektronik. Dengan adanya perpaduan dangdut dengan berbagai genre musik, membuat karakter musik dangdut lebih berwarna, juga membawa penyegaran serta memperluas pasarnya hingga ke generasi muda.
Tren Dangdut Koplo dan Elektronik
Tren dangdut koplo yang sering kita dengarkan saat ini sudah lebih dulu dikenal pada grup-grup orkes Jawa Timur, dan juga seniman dangdut di Pesisir Pantura. Jenis musik koplo adalah salah satu bentuk dari dangdut daerah yang menggunakan bahasa daerah dan juga memasukkan unsur alat musik setempat.
Berbeda dibanding dangdut konvensional, dangdut Koplo memiliki ketukan (beat) lebih cepat. Ketukan cepat inilah yang seakan mengajak pendengar untuk bergoyang dan bersenang-senang.
Tidak hanya sampai di situ, musik dangdut terus berkembang hingga akhirnya ada campuran dari genre lain yakni musik elektronik. Uniknya, musik elektronik yang merupakan genre musik kekinian, dapat membuat generasi muda melirik dangdut sebagai salah satu genre musik pilihan yang asyik didengar.
Bahkan platform streaming musik JOOX memperkirakan bahwa musik dangdut koplo remix akan semakin banyak diminati pada 2021 ini. Hal ini disebabkan karena adanya pergeseran preferensi dan kebiasaan dalam mendengarkan musik, hingga pilihan musik yang semakin luas.
Ilustrasi sampul vynil Rhoma Irama, sampul kaset Elvie Sukaesih, dan sampul kaset A. Rafiq.(Sumber foto: Kasetlalu, MusicBrainz, Defhysteria, Shutterstock/AlexandrBognat))
Tokoh Kepopuleran Dangdut di Indonesia
Tentu saja perkembangan tren musik dangdut di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari tokoh-tokoh dangdut legendaris ini: Rhoma Irama, A Rafiq, Ellya Khadam, hingga Elvy Sukaesih yang sukses mempopulerkan dangdut pada era ‘60-’70-an silam.
Keberadaan musik dangdut di Indonesia seiring perjalannya, memiliki ciri khas tersendiri. Dangdut khas Indonesia berbeda dengan mudik India maupun musik melayu, meski keduanya menjadi cikal bakal keberadaan musik dangdut.
Popularitas musisi dangdut pada era awal, semakin melejit karena mereka tidak hanya menyanyi dari panggung ke panggung atau pesta ke pesta semata, tetapi turut menjadikan dangsut demakin merakyat lewat berbagai film layar lebar yang mereka bintangi.
Si Raja Dangdut Rhoma Irama dengan OM Soneta, A. Rafiq, Ellya Khadam, dan Elvie Sukaesih merupakan seniman dangdut kebanggaan Indonesia yang sukses sebagai penyanyi dangdut sekaligus aktor dalam berbagai film.
Rhoma Irama
Berjuluk ‘Raja Dangdut’, tidak heran jika Rhoma Irama memiliki peran penting dalam perkembangan dangdut di tanah air. Karir bermusiknya berawal dari grup orkes Gayhand (1963), dan dilanjutkan dengan kelompok orkes Melayu bernama El Sitara.
Namanya semakin dikenal saat membentuk grup musik dangdut bernama Soneta (1973). Tidak main-main, Rhoma Irama telah merilis 18 album selama berkarir bersama Soneta.
Beberapa album yang menjadi hits hingga sekarang antara lain: Begadang (1973), Darah Muda (1975), dan Bujangan (1994). Kepopulerannya pun tidak bisa dipisahkan dari kemampuannya menggabungkan aliran musik melayu, rock pop, dan India.
Selama karirnya Rhoma Irama telah mendapatkan beberapa penghargaan. Di antaranya: The South East Asia Superstar Legend di Singapura, dan menerima rekor MURI sebagai Penyanyi Legend.
A Rafiq
Penyanyi dangdut legendaris Indonesia ini mengawali karir dangdut di Semarang, Ahmad Rafiq atau biasa dipanggil A Rafiq bergabung dengan orkes musik melayu Sinar Kumala.
Pada 1969 A Rafiq membuat grup musik dangdut bernama Elrafika. Keunikannya grup musiknya saat itu adalah memadukan musik dangdut dengan irama India dan Timur Tengah yang sangat khas.
Salah satu lagu dangdut karya A Rafiq yang populer hingga sekarang adalah Pengalaman Pertama (1977). Bahkan lagu ini juga pernah dinyanyikan ulang oleh penyanyi pop legendaris lainnya, Chrisye.
Tak hanya itu, kepopuleran karya-karya A Rafiq juga dibuktikan dari penjualan kasetnya yang melejit di masa itu. Bahkan album berisi lagu berjudul “Lirikan Matamu” pernah terjual hingga 1 juta copy.
Ellya Khadam
Ellya Khadam merupakan penyanyi dangdut generasi awal yang sangat terpengaruh oleh budaya dan musik India. Salah satu lagu dangdut yang membuatnya terkenal berjudul Boneka dari India. Ellya Khadam tergabung dalam Orkes Melayu Kelana Ria, pimpinan Adi Karso dan Munif Bahasuan.
Kiprahnya bersama Orkes Melayu Kelana Ria pada akhir 1950-an, menjadikan Ellya Khadam menjadi salah satu perintis musik dangdut yang terkenal di masyarakat. Sederan lagu karyanya, dan yang dinyanyikannya pun banyak digemari muda-mudi ibu kota saat itu.
Ellya Khadam terkenal sebagai penulis lagu "Boneka Dari India", "Djandji", dan "Pergi Tanpa Pesan" yang sangat populer sejak akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an. Ellya Khadam juga terlibat proyek kolaborasi dengan Rhoma Irama.
Elvy Sukaesih
Membahas perjalanan musik dangdut tentunya kurang lengkap tanpa memasukkan Ratu Dangdut, Elvy Sukaesih. Mulai bernyanyi sejak duduk di bangku sekolah dasar, nama Elvy Sukaesih dikenal setelah gabung dengan orkes Melayu OM Pancaran Muda dan OM Pernama.
Kemudian pada era ’70-an dirinya sempat bergabung dan menjadi penyanyi pendamping Rhoma Irama bersama Soneta. Hingga akhirnya namanya semakin melambung dan merilis albumnya sendiri berjudul: Ratu dan Radja (1975).
Selama berkarir Ratu Dangdut Indonesia ini telah menyabet berbagai penghargaan bergengsi: AMI Award kategori Artis Solo Wanita dangdut Terbaik (2005), Golden Achievement Award Spirit Cultural Asean Communitas dari Kesultanan Djohor dan Kelantan (2015), dan Lifetime Achievement Award dari SCTV Music Award (2016).
Foto Cover: Sampul piringan hitam (vynil) duet pionir dangdut modern, Rhoma (Oma) Irama dan Ellya Khadam. (Dokumentasi: RhomaIrama.Info)


Berita Terkait
rekomendasi berita

WIDURI Ekraf 2021 Mendorong Pengembangan Pelaku Ekonomi Kreatif di 5 DSP

rekomendasi berita

Wadah Makanan Ramah Lingkungan dari Pelepah Pinang

rekomendasi berita

Ketika Relief Candi Borobudur Menginspirasi Para Musisi