Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Produk Kriya Bertahan di Tengah Pandemi
banner foto

Produk Kriya Bertahan di Tengah Pandemi

KRIYA

4

19 Februari 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
4211
Meski produk kriya bertahan di tengah pandemi, namun selama COVID-19 terjadi penurunan pendapatan sekitar 3-5%. Jelas penurunan pendapatan dari sektor ekonomi kreatif tersebut berdampak cukup besar pada perekonomian tanah air. Produk kriya Indonesia merupakan subsektor ekonomi kreatif yang masuk dalam tiga kontributor terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2019, industri kriya menyumbang 14,9% dari total PDB nasional. Penurunan pendapatan dari sektor produk kriya Indonesia terjadi seiring kebijakan lockdown yang diberlakukan oleh beberapa negara tujuan ekspor. Meski pandemi COVID-19 membuat banyak sektor terpuruk, kondisi ini juga memunculkan tren baru di masyarakat, khususnya terhadap sektor produk kriya Indonesia.
Industri kriya dalam negeri termasuk salah satu sektor yang tangguh dalam menghadapi dampak ekonomi akibat pandemi COVID-19. Eksistensi produk kriya Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fungsi ganda kriya dalam kehidupan.
Selain menawarkan estetika, seni kriya juga tetap memiliki fungsi sebagai benda terapan. Berbekal dua manfaat tersebut, produk kriya Indonesia selalu dilirik banyak konsumen, baik lokal maupun mancanegara.
Upaya Pengusaha Produk Kriya Indonesia
Perubahan sistem belajar mengajar, bekerja, dan berbagai aktivitas lain berbasis daring membuat fokus dan hobi masyarakat turut berubah. Contohnya, banyak masyarakat yang mulai tertarik dengan kegiatan mendekorasi rumah. Jelas, hobi baru ini membutuhkan banyak pernak-pernik.
Ditambah lagi sebagian masyarakat antusias mengubah ruangan menjadi kantor, selama penerapan work from home. Tak heran jika meja dan kursi kantor, serta hiasan rumah menjadi produk kriya yang banyak dicari selama pandemi.
Melihat peluang tersebut, benda-benda interior rumah jadi perhatian baru bagi masyarakat Indonesia. Untuk menciptakan dekorasi ruangan yang diinginkan, tidak sedikit masyarakat melirik produk kriya buatan Indonesia sebagai pilihan.
Inovasi pelaku ekonomi kreatif Indonesia dalam menjaga “nyawa” kelangsungan bisnisnya juga sangat beragam. Salah satu inovasi besar yang dilakukan pelaku industri kreatif adalah memasarkan produk kriya Indonesia secara digital.
Pemasaran produk kriya Indonesia secara daring bukan tanpa alasan. Hal ini mempertimbangkan kelebihan pemasaran digital, yakni jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, pola pembelian masyarakat sejak pandemi berlangsung mulai beralih ke arah digital.
Hasil nyata dari inovasi yang dilakukan para pelaku ekonomi kreatif subsektor kriya mulai tampak jelang akhir 2020. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai adanya pemulihan pada akhir 2020, meski pandemi masih terjadi di Indonesia. Kondisi ini berbanding terbalik dari masa awal pandemi; di mana nyaris tidak ada pesanan yang masuk ke industri mebel dan kerajinan nasional.
Membaiknya sektor industri mebel di akhir 2020 memberikan sinyal positif bagi produk kriya Indonesia. Selain dari segi pemasaran, inovasi juga dilakukan pengrajin dari segi produk. Cara ini yang dipilih oleh banyak pengrajin kriya, salah satunya pengrajin di bawah sanggar Uri-Uri Kriya Logam.
Kelompok Uri-Uri Kriya Logam mencoba membuat inovasi terhadap produknya. Jika sebelum pandemi jenis pesanan lebih banyak berupa ukuran logo dan nama perusahaan dari bahan kuningan dan tembaga, saat ini sudah tidak lagi.
Surutnya pesanan dalam bentuk tersebut membuat para pekerja memutar otak, lantas menciptakan produk berupa
home decor. Mereka mulai mencoba menghasilkan produk baru berupa hiasan dinding berbentuk wayang, ukir-ukiran, dan hiasan lainnya. Terbukti, melalui inovasi ini, permintaan pasar mulai kembali naik.
Pengrajin Seni Kriya Shutterstock/Eddy H
Dukungan Pemerintah
Seperti upaya pegiat ekonomi kreatif untuk bangkit dari dampak pandemi, pemerintah juga memberikan respons serupa. Melalui Kemenparekraf/Baparekraf, pemerintah mengajak pelaku ekonomi kreatif kriya untuk mengakselerasi di tengah tantangan pandemi.
Dukungan dari pemerintah ini dilakukan dengan berbagai upaya, salah satunya mengadakan kelas pemasaran digital. Adanya pelatihan pemasaran digital ini tidak hanya membuat pelaku ekonomi kreatif di subsektor kriya mampu bertahan, namun diharapkan mampu menembus pasar ekspor secara efisien.
Kemenparekraf/Baparekraf terus mendukung pelaku ekonomi kreatif, khususnya subsektor kriya untuk segera go digital. Melalui pelatihan ini, para pelaku ekonomi kreatif belajar memahami perubahan perilaku konsumen selama pandemi, cara membangun branding di dunia digital, mengembangkan pemasaran digital, mengembangkan rencana bisnis digital, serta mendatangkan penjualan.
Tidak berhenti di situ, Kemenparekraf/Baparekraf juga meluncurkan program #BeliKreatifLokal. Dikutip dari laman belikreatiflokal.id, kegiatan tersebut diadakan untuk membuka kesempatan bagi para pelaku ekonomi kreatif, salah satunya produk kriya Indonesia, untuk tetap bisa memasarkan produk-produknya di masa pandemi. Program ini diutamakan untuk pelaku ekonomi kreatif yang berada di zona merah (Jabodetabek).
Sasaran program #BeliKreatifLokal adalah 500 usaha kreatif dari subsektor kuliner, fesyen, dan kriya yang diberikan pendampingan secara gratis. #BeliKreatifLokal sendiri merupakan turunan dari program #BanggaBuatanIndonesia yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo sejak Mei 2020.
Pelaku ekonomi kreatif yang terkurasi menjadi 500 besar akan mendapatkan sejumlah fasilitas, seperti pendampingan secara daring, wawasan dan menyusun strategi promosi digital, hingga cara bersinergi dengan mitra platform.
Selain itu, pendampingan juga dilakukan dalam pendirian badan hukum ekonomi kreatif, pengurusan sertifikat HAKI, penyediaan dan pelatihan aplikasi pembukuan berbayar, sampai pengurusan sertifikat cuti bayar pajak.
Dukungan-dukungan ini diberikan sebagai upaya saling bahu membahu menyelamatkan industri kreatif Indonesia. Partisipasi dari masyarakat luas juga sangat diharapkan dalam rangka menyelamatkan produk kriya Indonesia di tengah pandemi. Kontribusi masyarakat ini dapat dilakukan dengan cara turut mempraktikkan #BeliKreatifLokal dan #BanggaBuatanIndonesia agar produk kriya bertahan di tengah pandemi.
Foto Cover: Shutterstock/Bastian AS


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia