Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Salatiga Menuju Kota Gastronomi Kelas Dunia
banner foto

Salatiga Menuju Kota Gastronomi Kelas Dunia

Kuliner

0

11 Oktober 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
224
Kota Salatiga baru-baru ini diusulkan menjadi nominasi Creative City of Gastronomy  ke UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Kepastian usulan tersebut diperoleh melalui surat Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).
Dibandingkan dengan istilah kuliner, mungkin kata gastronomi memang terdengar agak asing di telinga. Meski secara ranah hampir mirip, namun istilah “Kota Gastronomi” berbeda dengan “Kota Kuliner”.
Secara umum, gastronomi merupakan ilmu yang membahas tentang kebiasaan makan yang baik (good eating habit) atau bisa juga dikaitkan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan makanan dan minuman. Namun, gastronomi bukan hanya soal makanan dan minuman yang dihidangkan di atas meja, tapi ilmu yang mempelajari seluk beluk cerita dibalik makanan itu sendiri, mulai sejarah makanan, asal bahan pangan, pengolahan, cara masak hingga bagaimana makanan itu dimakan.
“Gastronomi adalah kebiasaan makan yang baik yang berasal dari suatu wilayah atau daerah yang berkaitan dengan budaya setempat dan pangan lokalnya. Misalnya di daerah pesisir, masyarakat di sana kebanyakan memakan hidangan laut atau seafood. Artinya, gastronomi juga berkaitan erat dengan letak geografis suatu daerah, budaya dan tentu saja kearifan lokal masyarakatnya,” kata Vita Datau, Founder dari Indonesia Gastronomy Network.
Gastronomi merupakan ekosistem yang mencakup segala hal tentang makanan dari hulu ke hilir. Vita menjelaskan, jika dilihat dari hulu, maka gastronomi akan melihat asal bahan pangan, misalnya bagaimana cara tanaman pangan tumbuh, dari mana lokasi asalnya, bagaimana budidayanya. Selanjutnya juga membahas bagaimana pangan tersebut dipanen serta bagaimana distribusinya.
Setelah panen, gastronomi juga melihat bagaimana pangan tersebut masuk ke dapur dan melihat bagaimana cara mengolahnya. Hingga akhirnya bagaimana pangan tersebut sudah menjadi makanan dan bagaimana cara makanan itu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari budaya dan tentu saja sebagai kebutuhan sehari-hari. “Jadi, gastronomi ini bicara tentang pengalaman dan pengetahuan kita tentang makanan, bukan hanya soal rasa,” sambung Vita.
Selain tentang pangan, gastronomi juga melihat bagaimana suatu makanan sebagai bagian dari kearifan lokal. Misalnya, masyarakat Papua mengkonsumsi sagu atau masyarakat Nusa Tenggara Barat Timur yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan  pokok dan lain sebagainya.
Kedua, gastronomi juga melihat bagaimana makanan sebagai bagian dari lifestyle atau gaya hidup suatu masyarakat, contohnya adalah jika ada suatu makanan yang dikonsumsi secara turun temurun. Ketiga, gastronomi juga melihat budaya, yaitu bagaimana tradisi yang berkaitan dengan makanan, misalnya makanan yang juga digunakan dalam upacara adat, untuk sesajen atau persembahan.
Mengapa Salatiga Menjadi Kota Gastronomi?
Dilihat dari berbagai aspek, Kota Salatiga dianggap sebagai kota yang ideal sebagai Kota Gastronomi di Indonesia. Pemilihan Salatiga sebagai Kota Gastronomi bukan tanpa alasan. Jika dilihat dari segi lokasi, Salatiga sangat strategis untuk dikunjungi wisatawan.
Salatiga diapit tiga kota penting di Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta, yakni Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta. Sementara dari segi keindahan, Salatiga juga tidak kalah cantik. Bahkan, semasa pemerintahan kolonial Salatiga dijuluki: Salatiga Dea Schoonnste Staad Van Midden Java, atau Salatiga Kota Terindah di Jawa Tengah.
Selain itu, Salatiga juga telah lama menjadi rumah dari keragaman suku dan etnis, sehingga memiliki kekuatan tersendiri dalam hal kuliner. Ada berbagai sajian khas yang menjadi andalan Kota Salatiga, di antaranya sate sapi suruh, opor bebek, soto esto, gecok kambing, ronde sekoteng, enting-enting gepuk, dan sajian khas Salatiga yang ikonik adalah tumpang koyor.
“Salatiga merupakan kota tertua kedua di Indonesia, berumur 1271 tahun. Jadi, akan banyak sekali makanan yang sudah ada sejak dulu dan sangat bisa untuk dilihat dari sisi gastronomi yang mendukung  pencalonan UCCN Gastronomy Heritage,” ulas Vita.
Tumpang Koyor salah satu kuliner khas Salatiga yang resepnya sudah ada sejak tahun 1814.. (Foto: Shutterstock/Rani Restu Irianti)
Menurut bukti sejarah, dalam naskah Serat Centhini, resep tumpang koyor ini telah ada sejak 1814. Tumpang koyor merupakan sup tradisional yang terdiri dari tahu, tempe, atau hidangan berbasis kedelai, serta bumbu khas lainnya.
Resep-resep tersebut pun telah diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, keunikan cita rasa dari tumpang koyor tidak perlu diragukan lagi. Dengan kata lain, menjadikan Salatiga sebagai Kota Gastronomi juga sebagai bentuk upaya melestarikan resep warisan nusantara yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.
Salatiga tidak hanya memiliki potensi dalam hal kuliner, namun juga keberagaman. Salatiga menjadi tempat berbaurnya 196.082 orang dengan beragam etnis. Populasi multietnis inilah yang membuat potensi gastronomi di Salatiga sangat tinggi.
Dalam bidang sosial budaya, hingga saat ini akulturasi di Salatiga masih terus berlangsung. Hal ini membuat masyarakatnya semakin menghargai keberagaman dan toleransi. Penerimaan akan keberagaman juga bisa menjadi kabar baik bagi wisatawan yang akan berkunjung, dan menyaksikan langsung keramahan masyarakatnya.
Potensi kota Salatiga juga tidak bisa dilepaskan dari prestasi-prestasi yang telah ditorehkannya. Salatiga pernah mendapatkan predikat sebagai Kota Paling Toleran se-Indonesia, Kota Ramah Anak, Kota Ramah HAM, dan penghargaan lainnya.
Selain itu, dalam rangka menuju Kota Gastronomi kelas dunia, ada banyak hal yang dipersiapkan. Salah satunya persiapan ekosistem, mulai dari pembangunan pasar tradisional, pendidikan kuliner lokal, perbaikan kualitas pelayanan, kebersihan, kesehatan, dan penguatan ekosistem lainnya.
Meski pembangunan ekosistem masih terus berjalan, namun kabar baiknya upaya ini tidak perlu dimulai dari awal. Pasalnya, ekosistem gastronomi di Salatiga telah berkembang sangat kreatif. Kekuatan inilah yang akan menjadi modal awal, sekaligus senjata paling potensial, untuk menyukseskan perjalanan Salatiga sebagai Kota Gastronomi.
Bubur Tumpang Koyor "Mbah Sabar" di Jl. Ahmad Yani, Salatiga yag masih dgemari masyarakat sebagai menu sarapan. (Foto: Rakhmat Koes)
Potensi Gastronomi Daerah lain
Kota lain yang berpotensi dijadikan pusat gastronomi adalah Medan, Surabaya, Makassar dan Jakarta pastinya sebagai melting pot.
“Kita sebagai masyarakat Indonesia, harus yang pertama sadar bahwa gastronomi nusantara itu sangat kuat. Pak William Wongso pernah berkata kepada saya bahwa sudah terjadi pergeseran dari minat penikmat kuliner dunia. Dunia Barat sudah mulai bosan dengan makanannya yang memiliki rasa statis dan ingin mencari rasa baru yang dimulai dari rempah2 pada makanan khas Asia. Akibatnya, saat ini banyak sekali chef asing yang belajar makanan Asia, salah satunya Indonesia. Artinya, ini akan jadi kesempatan yang sangat baik untuk menjual dan menyebarluaskan produk Indonesia ke negara lain, khususnya negara Eropa,” terang Vita.
Gastronomi sangat bisa menjadi kekuatan Indonesia di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan adanya kurang lebih 84 ribu desa wisata di Indonesia, artinya ada banyak sekali potensi dari gastronomi setiap desa, kota, kabupaten dan provinsi  yang bisa digali dari hulu ke hilir. Masih banyak sekali hal yang belum dieksplor dan belum dikembangkan secara optimal.
“Jika kita bisa lebih peka terhadap potensi ini, gastronomi sangat bisa mendorong pertumbuhan ekonomi serta mendorong Indonesia menjadi destinasi gastronomi dunia yang bisa menguntungkan industri pariwisata dan ekonomi kreatif negara ini,” tutup Vita.
Foto Cover: Ilustrasi tugu monumental di Kota Salatiga, Jawa Tengah. (Shutterstock/Photo Gallery Rudy)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia