Ingin tahu soal 5 Destinasi Super Prioritas,klik di sini ya!
Pentingnya Fotografer Memahami Lokasi Foto di Alam Terbuka

Pentingnya Fotografer Memahami Lokasi Foto di Alam Terbuka

0

Belajar dari kasus terbakarnya kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, seorang fotografer harus lebih peka dan bijak saat mengambil gambar. Terutama saat berencana mengambil gambar di alam terbuka secara langsung. Jangan sampai, akibat kelalaian pribadi, justru merusak ekosistem alam dan merugikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di sekitar kawasan. 

Saat ini fotografer menjadi salah satu bidang pekerjaan di subsektor ekonomi kreatif yang banyak diminati. Sayangnya, ternyata masih ada beberapa fotografer yang kurang memahami aturan mengambil gambar di alam terbuka. Khususnya di kawasan konservasi Indonesia. 

Hingga saat ini, kawasan konservasi seperti Taman Nasional dan Taman Hutan Raya termasuk destinasi alam terbuka yang banyak diminati sebagai latar pengambilan gambar. Namun, perlu diingat jika kawasan konservasi tidak boleh sembarangan dimasuki pengunjung. Ada aturan yang perlu diperhatikan, guna menjaga kelestarian sumber daya alam di kawasan konservasi.

Sebagai seorang fotografer, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan memotret di destinasi wisata alam terbuka, atau kawasan konservasi. Baik itu dengan mengantongi izin dari pihak pengelola, mematuhi aturan, hingga membawa properti yang aman. 

Lebih lengkapnya, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat memotret di alam terbuka:

Pilih dan survei lokasi foto 

Memilih dan melakukan survei merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan seorang fotografer. Apalagi jika Sobat Parekraf berencana memiliki alam terbuka yang masuk dalam kawasan konservasi alam. 

Minimal, kamu harus mendapatkan informasi tentang lokasi wisata yang dituju. Baik itu tentang jam buka lokasi wisata, hingga aturan yang berlaku di kawasan tersebut. Hal ini bertujuan agar Sobat Parekraf bisa mempersiapkan peralatan yang sesuai saat pengambilan gambar di kawasan tersebut. 

BACA JUGA: Destinasi Wisata Indonesia Jadi Tempat Liburan Pesohor Dunia 

Foto: Ilustrasi seorang fotografer memotret di kawasan konservasi yang harus memiliki izin (Shutterstock/structuresxx)

Urus perizinan dengan pihak pengelola

Seorang fotografer wajib hukumnya untuk mengurus perizinan dengan pihak pengelola kawasan wisata. Kalau berencana memotret di kawasan perlindungan, Sobat Parekraf harus mengantongi Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) yang berlaku.

Meski sudah mengantongi izin, Sobat Parekraf tetap harus menaati tata tertib dan aturan yang berlaku di kawasan wisata alam terbuka tersebut. Pastikan untuk tetap menjaga kebersihan, tidak merusak ekosistem alam, serta tidak mengunjungi lokasi yang tidak diizinkan oleh pengelola.

Gunakan properti yang aman

Demi menjaga alam yang masih terjaga sangat baik, Sobat Parekraf diwajibkan membawa dan menggunakan properti yang aman dan ramah lingkungan. Hindari menyalakan api unggun, kembang api atau flare sebagai properti foto. Karena dapat memicu kebakaran yang dapat merusak ekosistem.

BACA JUGA: Kemenparekraf Bekali Kemampuan Fotografi Pelaku Ekonomi Kreatif di Bali 

Manfaatkan digital imaging

Khawatir gambar yang dihasilkan kurang menarik karena jumlah properti yang dibatasi saat mengambil gambar di destinasi wisata alam terbuka? Sebagai gantinya, Sobat Parekraf bisa memanfaatkan teknik digital imaging untuk menghasilkan karya foto yang lebih hidup.

Digital imaging lebih dikenal sebagai tren memanipulasi foto untuk menghasilkan gambar yang tidak biasa, tapi tetap terlihat menakjubkan. Bahkan, berkat digital imaging kamu bisa menghasilkan gambar yang terlihat tidak masuk akal, menjadi indah dan memiliki nilai lebih.

Misal, Sobat Parekraf ingin mengambil gambar seseorang di tengah perkebunan bunga yang masih sangat terjaga, tapi karena tidak memungkinkan dan sedikit merepotkan, kamu bisa memanfaatkan digital imaging untuk menggabungkan foto seseorang dengan perkebunan bunga menjadi satu. Dengan sedikit polesan, hasil digital imaging akan terlihat nyata. 

Jadi, sebagai seorang fotografer, Sobat Parekraf  tidak hanya dituntut kreatif, tapi juga harus memahami lokasi di mana kamu mengambil gambar. Jangan sampai karena ingin hasil foto terlihat bagus malah merusak alam sekitar.

BACA JUGA: Destinasi Wisata Edutainment Ramah Anak di Indonesia 

Kemenparekraf / Baparekraf
Kemenparekraf/Baparekraf RIRabu, 11 Oktober 2023
3309
© 2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif