Yuk kuliah #DiPoltekparAja. SegeraKlik Disini
Strategi Digital Tourism dalam Menggaet Wisatawan

Strategi Digital Tourism dalam Menggaet Wisatawan

13

Pandemi COVID-19 menjadi mimpi buruk bagi seluruh sektor industri, terutama pariwisata Indonesia. Untungnya, perkembangan teknologi menjadi angin segar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk bisa bertahan dan berkembang di tengah pandemi.

Kunci utama para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik. Ketiga kemampuan itu sebenarnya sudah mulai diterapkan di Indonesia melalui digital tourism.

Digital tourism merupakan salah satu strategi yang efektif dalam mempromosikan berbagai destinasi dan potensi pariwisata Indonesia melalui berbagai platform. Artinya, digital tourism tidak hanya sekadar mengenalkan, namun juga menyebar keindahan pariwisata secara luas untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia.

Bisa dibilang tren digital tourism tentu akan menjadi lompatan besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Sebab, digital tourism secara tidak langsung membuat masyarakat semakin melek dan ikut beradaptasi dalam perkembangan teknologi. Tentu bukan hal yang sulit, karena gaya hidup masyarakat cenderung cepat dan bersentuhan langsung dengan internet.

Bukan hanya itu saja, saat ini tren pariwisata juga mulai bergeser ke arah digital. Salah satu buktinya terlihat dari aktivitas wisatawan yang mulai merencanakan perjalanan, pre-on-post journey, hampir seluruhnya dilakukan secara digital.

Menariknya lagi, ternyata perkembangan teknologi saat ini menjadikan industri pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor yang mengalami digitalisasi dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan kata lain, penerapan strategi digital tourism adalah pilihan yang tepat untuk menggaet wisatawan mancanegara, dan membantu memulihkan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia pasca pandemi COVID-19.

Strategi Digital Tourism

Guna menunjang penerapan digital tourism di Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) sudah mulai melakukan berbagai persiapan secara matang.

Contohnya pada layanan internet dan wifi, Kemenparekraf/Baparekraf telah berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dalam mengembangkan infrastruktur telekomunikasi dan informatika (TIK), terutama di 5 Destinasi Super Prioritas (DSP) dan desa wisata di Indonesia.

Diharapkan signal coverage dapat lebih memadai di seluruh daerah, hingga pelosok. Bukan hanya untuk menunjang digital tourism, peningkatan layanan internet sekaligus mengoptimalkan perkembangan tren wisata digital nomad di Indonesia.

Ilustrasi turis yang selalu terkoneksi dengan aktivitas digital.(Foto: Shutterstock/sergey causelove)

Selain itu, dalam pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga harus dibarengi dengan menerapkan strategi yang tepat bagi sektor akomodasi di Indonesia agar dapat bertahan. Salah satu caranya adalah melakukan adaptasi dengan menawarkan fasilitas WFH (Work From Hotel), untuk para pekerja profesional yang membutuhkan refreshing di tengah kesibukan pekerjaannya.

Selanjutnya, industri perhotelan telah banyak menyediakan paket wisata staycation di hotel. Sebab, pandemi menjadikan staycation sebagai alternatif tren liburan yang aman, karena tidak mengharuskan wisatawan berkunjung ke tempat ramai.

Hal tersebut pun harus ditunjang dengan faktor keselamatan dan kenyaman saat menginap. Maka dari itu setiap hotel harus dilengkapi dengan sertifikat CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability), agar setiap wisatawan dapat menginap dengan aman dan nyaman.

Informasi Melalui Smartphone

Platform media sosial memiliki peranan yang cukup kuat untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia. Oleh karena itu, membuat spot-spot wisata Instagramable menjadi salah satu strategi mempromosikan tempat wisata secara gratis agar dapat meningkatkan wisatawan.

Karena semua serba digital, tentu harus dibarengi dengan kemudahan akses wisatawan untuk menuju lokasi wisata. Mulai dari memesan tiket perjalanan, memilih transportasi, menentukan akomodasi, hingga mencari informasi tentang destinasi wisata yang dituju semua bisa dilakukan lewat smartphone.

Bukan hanya itu saja, saat ini semua dituntut untuk serba cepat, mudah, dan aman, termasuk soal pembayaran. Maka dari itu, telah banyak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang beralih ke sistem pembayaran cashless environment, atau pembayaran digital menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Menariknya, hingga pertengahan Juli 2021 sudah ada 8 juta merchant yang telah terintegrasi dengan layanan QRIS. Tentu jumlah merchant akan terus meningkat, sehingga memudahkan seluruh wisatawan melakukan transaksi cashless.

Jadi, dengan pesatnya perkembangan teknologi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terus berupaya untuk bergerak cepat mengikuti perkembang tersebut. Sehingga dapat menciptakan tren pariwisata baru pasca pandemi COVID-19.

Foto Cover: Ilustrasi wisatawan yang tengah melakukan aktivitas digital menggunakan gadget-nya. (Shutterstock/sergey causelove)

Kemenparekraf / Baparekraf
Kemenparekraf/Baparekraf RISabtu, 18 September 2021
9433
© 2022 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif