Ingin tahu soal 5 Destinasi Super Prioritas,klik di sini ya!
Piala Citra, Sejarah Panjang Penghargaan Bergengsi Perfilman Indonesia

Piala Citra, Sejarah Panjang Penghargaan Bergengsi Perfilman Indonesia

0

Ajang penghargaan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2023 telah berlangsung sukses dan meriah di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan pada 14 November 2023. Meski hanya bisa disaksikan secara daring melalui akun YouTube Festival Film Indonesia, Kemendikbudristek RI, dan Budaya Saya, malam anugerah Piala Citra 2023 disambut meriah oleh para penikmat film Indonesia.

Tahun ini, malam anugerah Piala Citra FFI 2023 mengusung tema “Citra”. Kata “Citra” tidak hanya diambil dari nama piala bergengsi saja, kata “Citra” dalam tema Festival Film Indonesia memiliki makna yang besar, seakan memberitahu kepada masyarakat luas bahwa Piala Citra merupakan lambang atau simbol supremasi tertinggi di dunia perfilman Indonesia.

Namun, tahukah Sobat Parekraf, ternyata nama “Citra” dalam ajang penghargaan Piala Citra memiliki cerita panjang dan makna mendalam. Mengutip dari laman resmi Festival Film Indonesia (festivalfilm.id), kata “Citra” diambil berdasarkan judul sajak yang diciptakan oleh Usmar Ismail pada 20 September 1943 di Malang.

Sajak tersebut terdapat dalam buku kumpulan puisi karya Usmar Ismail yang berjudul “Puntung Berasap”. Berawal dari buku tersebut, akhirnya sajak tersebut diaransemen oleh Cornel Simanjuntak, dan menjadi lagu tema perhelatan Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia yang digunakan hingga sekarang.

BACA JUGA: Fasilitas PEN untuk Industri Film Indonesia 

Perjalanan Panjang Piala Citra 

Piala Citra akhirnya mulai diberikan pertama kali dalam Festival Film Indonesia 1973, saat itu masih diselenggarakan oleh Yayasan Film Indonesia (YFI). Bentuk ikonik Piala Citra pertama tersebut didesain oleh Gregorius Sidharta, penggunaan desain Piala Citra generasi pertama tersebut bertahan hingga 2008.

Pada 2008, Festival Film Indonesia mengubah bentuk Piala Citra sebagai simbol semangat baru. Pengubahan bentuk tersebut melibatkan banyak sosok penting, termasuk para seniman patung dan seni rupa. Sayangnya, desain Piala Citra generasi kedua hanya bertahan sekitar enam tahun. Pada 2014, bentuk Piala Citra kembali ke bentuk semula rancangan Gregorius Sidharta. 

Namun, desain piala terbaru ini sedikit dimodifikasi oleh Dolorosa Sinaga, yang merupakan salah satu anak didik Gregorius Sidharta di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Masih terus digunakan sampai sekarang, diharapkan desain Piala Citra saat ini bisa menjadi simbol penyelenggaraan Festival Film Indonesia menuju semangat awalnya.

Foto: Peraih Piala Citra kategori "Film Cerita Panjang Terbaik 2023" Women From Rote Island (Official IG @festivalfilmid)

Seperti yang kita tahu, sebelum menjadi Festival Film Indonesia, ajang penghargaan ini dinamakan dengan Pekan Apresiasi Film Nasional. Ajang penghargaan ini dibuat untuk mengevaluasi film-film Indonesia dalam setahun, sekaligus menjadi forum pertemuan antara pembuat dan penonton film, serta forum penilaian kualitas penggarapan film. Sayangnya, banyak pihak kurang sreg dan mendebatkan pemilihan nama tersebut, termasuk konsep acara tersebut. 

Setelah berbagai lika-liku dan sempat vakum, akhirnya masyarakat film yang bergabung dengan Yayasan Nasional Film Indonesia (YFI) merasa perlu ada festival film tahunan. Akhirnya, YFI mengubah Pekan Apresiasi Film Nasional menjadi Festival Film Indonesia pada 1973. Berawal dari penyelenggaraan tersebut akhirnya menjadi titik awal Festival Film Indonesia menjadi ajang penghargaan film tahun bergengsi di Indonesia hingga saat ini. 

BACA JUGA: Menparekraf Ajak Sony Pictures Entertainment Jepang Garap Film Berlatar Destinasi Indonesia 

Daftar Peraih Piala Citra 2023

Malam anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia 2023 melahirkan banyak nama-nama baru dari berbagai kategori. Salah satunya adalah kategori “Film Cerita Panjang Terbaik” yang berhasil dimenangkan oleh film Women From Rote Island (2023). Bahkan, sutradara film Women From Rote Island, Jeremias Nyangoen, turut mendapatkan penghargaan “Sutradara Terbaik” Piala Citra 2023.

Sementara untuk “Penulis Skenario Adaptasi Terbaik” diberikan kepada M Irfan Ramli, 24 Jam Bersama Gaspar (2023); “Pengarah Sinematografi Terbaik” jatuh kepada Joseph Christoforus Folid, Women From Rote Island (2023); “Penata Efek Visual Terbaik” diberikan kepada Kalvin Irawan, Sri Asih (2022); dan “Penyunting Gambar Terbaik” diraih Aline Jusria, Like & Share (2022).

Menariknya, gelaran Festival Film Indonesia 2023 turut memberikan “Penghargaan Pengabdian Seumur Hidup” kepada Pengarah Sinematografi H.M Soleh Ruslani dan Produser Raam Jethmal Punjabi. 

Harapannya, hadirnya Festival Film Indonesia dan penghargaan Piala Citra dapat menjadi langkah awal dalam memajukan industri kreatif film Indonesia di masa yang akan mendatang. Tidak hanya itu saja, Piala Citra juga diharapkan dapat terus memotivasi para sineas untuk menciptakan banyak karya-karya film terbaru terbaik yang berdaya saing. Sehingga subsektor ekonomi kreatif tersebut tumbuh.

BACA JUGA: Jayanya Superhero Lokal indonesia, dari Komik ke Film 

Cover: Ilustrasi Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (Ilustrasi by GRID)

Kemenparekraf / Baparekraf
Kemenparekraf/Baparekraf RIRabu, 6 Desember 2023
4291
© 2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif